Oleh: Sitti Rahmah Mansyur | Maret 16, 2010

Hmmm…

Ma’af jika kupernah menyakiti hatimu…Kutahu,kau mealkukannya karean keterpaksaan,khan????

Apa yang haruZ kulakukan untuk mengembalikan semuanya????

Oleh: Sitti Rahmah Mansyur | Desember 22, 2009

Kizah itu…

Makassar, 22 November 2009

Malam

Di sebuah kehidupan, yang membuatnya bertaruh dengan kizah hidupnya. Dia semakin beranjak dewaza, meniti kehidupannya untuk terlebih mengenal hidup. Dia periang, posesfif dan egoiz. Apa pun bentuk sikap dan sifatnya, mengantarkannya kepada dirinya yang ingin menjadi dirinya sendiri.

Di sebuah keadaan yang membuatnya bersikap kekanak-kanakan,semakin membuatnya penasaran dengan tingkahnya sendiri,,dia pun berkata pada dirinya sendiri,,”Akh,bingung”.

Dia tersenyum sejenak, sambil memperbaiki posisi duduknya,dia pun terdiam dan menatap ke langit. Pandangannya begitu lepas,,dan,dia pun teringat tentang kizahnya.

Hmmm……..

Pesantren itu membuatnya mengenal cinta. Kali pertama dalam hidupnya setelah dia terlahir ke Dunia. Cinta yang tak seharusnya belum boleh di kecupnya,,mengingat usianya yang masih belia. Tapi, siapa yang mampu memungkiri anugerah terindah itu???,,dia jatuh cinta dengan kakak kelasnya. Bayangin saja,,dia masih duduk di kelas III Madrasah Tsanawiyah, sedang kakak kelasnya sudah duduk dikelas III Madrasah Aliyah. Sangat jauh bukan????

Saat yang paling indah baginya, ketika dia bertanya pada hatinya sendiri,,”Inikah cinta?”,cinta pertamaku?”. Dia pun berdialog dengan Tuhannya lewat do’a : “Rabb, diriku jatuh cinta padanya,,izinkan aku menjaganya bila cinta itu benar-benar  indah keberadaanya untukku dan juga untuknya.

Sembari dia menyimpan dan menjaga raza itu, ternyata tak hanya dia yang suka padanya. Ada banyak perempuan (kakak dan adik kelasnya) juga suka padanya. Di pondokan selalu saja ada yang senang bercerita tentang dia. Dan tahukah kamu??,,terakadang hatinya marah setiap kali mendengar mereka bercerita tentang dirinya..Kata  Radha (Sahabatnya) ”Kau marah,karena kau cemburu”.Entahlah…Tapi, dia pikir, ”Perempuan mana seHc yang tak suka dengan Orang yang sebaik dan sepintar dia???”.

Yang juga sangat menyenangkan, setiap kali bertemu dengannya di mana saja, hatinya selalu deg-deg kan. Senyumnya selalu membuatnya terpesona,,pakaian yang yang di kenakan ke Masjid, dia terlihat bersahaja. Dan, itu semakin membuatnya jatuh hati padanya. Hingga saat itu,,tak biza dia pungkiri,bahwa dia  tak hanya ingin mencintainya,,tapi,juga ingin memilikinya. Oh,Tuhan…dia hambaMu yang sedang  bermimpi.

Hmmmm……

Dia pun mengalah,dan sadar bahwa dia bukan Perempuan pilihan. Tapi, apa pun itu tak membuatnya razanya luntur,,meski, dia harus bertaruh dengan harinya sendiri.

Lama setelah itu, dia masih tetap dalam keadaan yang sama. Di benaknya, dia ingin mengungkapkan raza itu,,karena, dia tak sanggup menutupi raza itu. Tapi, dia tak boleh melakukannya. Tidak ada jalan lain selain tetap menyimpan raza itu. Di saat itu, dia hanya berharap semoga segera ada petunjuk setelah hari itu. Dan malamnya di Shalat tahajjudnya, dia berdo’a seperti ini pada Allahnya: “Rabb,Engkau pemilik segala raza. Engkau yang menanamkan benih indah itu di hatiku untuknya. Entah dia merasakan hal yang sama atau tidak,,Beri Hamba tanda bahwa dia pun mencintaiku”.

……………………..Dan, bersambung…..(Nanti lagi kizahnya di ceritakn,,Hehehe ^_^)…

Oleh: Sitti Rahmah Mansyur | November 21, 2009

Perlahan…

Kupandangi langit,kuharap di sana akan memberi dia sebuah tanda.

Awan pun menjadi saksi.

Dia tak bisa mengelak, akhir dari semuanya adalah perpisahan. Sebuah karunia yang telah dia cicipi,dia harus mensyukurinya,,meski, sebagian dari itu adalah kepahitan yang haruz dia terima.

Malam pun tiba,dia masih duduk di teraz sembari menatap langit…pandangannya begitu lepaz. Tak kuasa dia menahan tangisnya,,hatinya berbisik ” Aku Ingin seperti Bulan “.

Hmm..mungkin Bulan pun sedang menatapku,,begitu pun dengan Bintang. Dia berharap ada secercah Cahaya yang segera menyinarinya.

Perlahan dia menghapus air matanya,,tapi,isak tangisnya masih teruz menguasainya. Tak kuasa dia menahan perihnya,,benar-benar menyiksa bathinnya. Dia bertanya dalam hatinya ” Adakah segera akhir dari rasa saki itu? Kalau “Iya”,,kapan???

“Dia ingin….Tapi,dia tak sanggup’…

Sebuah pernyataan yang begitu bodoh baginya.

Oleh: Sitti Rahmah Mansyur | November 18, 2009

Senyum Ayah Ibuku adalah kado berharga untukku.

Untuk Ibuku dan Bapakku tercinta.

Jauh sebelum diriku  terlahir dan hadir dalam kehidupan Ayah dan Ibuku, mereka selalu bermohon kepada Allah Swt agar dikaruniai keturunan yang “Sholeh dan Sholihah”, yang taat kepada Allah, berbakti kepada orang tua, rajin beribadah dan belajar, serta dapat menjadi penerus dakwah.

Banyak rencana yang mereka rancang, agar kelak bila aku hadir, mereka sudah siap menjadi orang tua yang baik dan mampu mendidikku dengan didikan yang sesuai dengan Aturan Islam, tuntunan mereka seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw kepada mereka.
Ayahku dan Ibuku ingin, kelak bila Allah mengamanahkan kepada mereka seorang Puteri, maka dia akan berakhlaq seperti akhlaqnya Fatimah Puteri Rasulullah, dan bila Allah mengamanahkan seorang Putera, maka dia akan seperti Ali Bin Abi Tahlib..

Setelah tanda kehadiranku mulai tampak, Ibuku sering mual, muntah-muntah, sakit kepala dan susah untuk tidur, Namun, Ibuku dan Ayahku tetap sabar dan bersyukur kepada Allah atas karuniaNya, mereka menjagaku sepenuh hati, serta selalu berharap, kelak diriku lahir sebagai Anak yang sehat, sempurna dan menyenangkan.

Sejak diriku berada dalam rahim Ibuku, mereka selalu melafazkan  kalimat-kalimat Tauhid kepadaNya dan  mengenalkanku kepada Sang Penciptaku, dengan bacaan Ayat-Ayat SuciNya, dengan senandung-senandung Shalawat Nabi, dengan nasyid-nasyid yang membangkitkan semangat  dan rasa keimanan kepada Allahku.

Saat diriku akan lahir, Ibuku merasakan sakit yang amat sangat, seolah berada antara hidup dan mati, namun Ibuku  tidak pernah sedikit pun mengeluh dan putus asa, karena bayangan kehadiranku lebih Ibuku rindukan dibanding dengan rasa sakit yang Ibuku rasakan. Ibuku tak henti-hentinya berdo’ a, memohon ampunan dan kekuatan kepada Allahku. Ayah pun tidak tidur beberapa malam untuk memastikan kehadiranku, menemani dan menguatkan Ibuku, agar sanggup melahirkan diriku dengan sempurna. Bacaan dzikir dan istighfar, mengiringi kelahiranku.

Begitu diriku lahir, sungguh rasa sakit yang amat sangat sudah terlupakan begitu saja. Setelah tangisku terdengar, seolah kebahagiaan hari itu hanya milik Ibuku dan Ayahku. Air mata yang tadinya hampir tak henti mengalir karena menahan sakit, berganti menjadi senyum bahagia menyambut kelahiranku. Ibuku dan Ayahku bersyukur kepada Allah Swt, kemudian Ayah melantunkan bacaan adzan dan iqomat ditelingaku, agar kalimat yang pertama kali aku dengar adalah kalimat Tauhid yang harus aku yakini dan aku taati sepanjang hidupku.

Saat pertama kali aku mengisap  air susu Ibuku, Ibuku merasakan kenikmatan dan kebahagiaan yang tiada tara. Ibuku selalu ingin memberikan semuanya yang terbaik untukku, agar aku segera tumbuh besar dan sehat. Ibuku selalu berusaha supaya ASI ini dapat mencukupi kebutuhanku. Ibuku berusaha mendekapku, membelaiku dan selalu mengajakku ke mana pun Ibuku pergi, supaya kapan pun aku lapar, Ibuku selalu siaga memberikan air surgawi karunia agar aku tidak menangis dan kelaparan.

 

 

Ibuku berusaha untuk selalu siap siaga menjagaku, kapan pun dan dalam keadaan apapun. Saat malam sedang tidur lelap, Ibuku akan terjaga bila aku tiba-tiba menangis karena selalu buang air kecil, atau celana kecilku  basah dan karena aku lapar. Saat Ayah dan Ibuku sedang makan dan aku buang air besar, Ibuku dengan rela menghentikan makan dan mengganti celana kecilku dulu. Dan semuanya, Ibu lakukan dengan senang hati, penuh kasih sayang, tanpa rasa risih dan jijik sedikit pun.

Sejak aku masih dalam ayunan, Ibuku senantiasa membacakan do’a dalam setiap kegiatan yang akan aku lakukan. Ibuku mengajariku bacaaan (do’a)  ketika aku hendak makan, do’a  tidur ketika aku mau tidur, dan do’a apa saja yang harus aku tahu dan aku amalkan dalam kehidupan keseharianku. Ibuku juga  selalu mengajariku Ayat kursi dan surat-surat pendek satu persatu setiap malam, dikala mengantarku tidur, ayat-per ayat dan Ibuku mengulanginya berkali-kali hingga aku sanggup mengingatnya dengan baik, dengan harapan jika aku besar nanti aku akan menjadi HambaNya yang mencintai Al-Qur’an.

Ketika aku sudah mampu berbicara, subhanallah, tanpa mereka duga, aku telah hafal berbagai macam do’a dan beberapa surat pendek. Ibuku bersyukur dan bangga kepadaku. Muncul harapan dalam hati Ayah dan Ibuku, kelak aku tumbuh menjadi anak yang pintar dan rajin belajar.

Tatkala aku mulai belajar Shalat, dan usai Shalat aku lantunkan do’a untuk orang tuaku, walau dengan bacaan yang masih belum sempurna, bercucur air mata Ibuku karena aku telah mampu melafalkan do’a itu. Timbul harapan dihati mereka  yang paling dalam, kelak hingga ketika Ibuku dan Ayahku tiada, aku tetap melantunkan do’a itu, karena do’aku akan memberikan kepada Ibuku dan Ayahku pahala yang tak henti-hentinya di Hari Akhir. Akulah aset masa depan bagi Ayahku dan Ibuku. Aku  akan mampu menolong Ayahku dan Ibuku di Hari Akhir nanti, bila aku menjadi Puterinya yang shalehah.
Kehadiranku memberikan kepada Ibuku dan Ayahku pelajaran yang sangat berharga, aku mengingatkan mereka tatkala masih sepertiku. Mengingatkan dengan lebih kuat lagi, betapa besar pengorbanan yang dilakukan oleh kakek nenekku kepada mereka, hingga Ibuku dan Ayahku tumbuh dewasa dan bahkan sampai menjadi orang tua seperti mereka.

Ibuku dan Ayahku sangat menyayangiku, karena mereka ingin aku  menjadi Puterinya yang penyayang terhadap sesama. Mereka  hampir selalu menyertakan kata sayang dibelakang namaku saat memanggilku, supaya hatiku senang dan gembira bersama Ibuku dan Ayahku.

Saat aku memasuki usia sekolah, mereka  carikan sekolah yang baik untukku. Sekolah yang memiliki visi pendidikan seperti yang Ibuku dan Ayahku inginkan. Alhamdulillaah, saat aku mulai sekolah, telah banyak berdiri sekolah-sekolah Islam Terpadu, sehingga mereka tidak kesulitan mencarikan sekolah untukku. Ayahku mengantarku ke Sekolah setiap pagi dan Ibu mendampingiku selalu hingga aku berani ditinggal di Sekolah sendiri.

Keperluan sekolahku selalu mereka cukupkan, walau kadang harus dengan susah payah, agar aku bisa memperoleh Pendidikan yang baik dan layak untuk kehidupanku di masa yang akan datang. Mereka  senantiasa berupaya membimbingku untuk dapat melakukan segala sesuatu, agar saat besar nanti aku mampu melayani diriku sendiri.

Bila Ibu dan Ayah tidak mau melayaniku untuk hal-hal yang sudah dapat aku lakukan sendiri, itu bukan berarti mereka tidak menyayangiku, tapi justru sebaliknya. Karena Ibuku dan Ayahku teramat sayang  padaku, aku tidak boleh terlalu dimanjakan, hingga saat aku besar nanti, aku akan  menjadi Puterinya yang mandiri dan serba bisa.

Ibuku dan Ayahku sering meminta ma’af  bila sekali waktu (atau bahkan sering) memarahiku ketika aku membuat kesalahan yang berulang-ulang. Sungguh, sebenarnya Ibuku dan Ayahku tak ingin memarahiku, namun mereka  sadar bahwa aku harus tahu dan harus dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah, agar saat aku dewasa dan telah bergaul dengan masyarakat umum nanti, aku bisa memilih untuk selalu melakukan yang haq dan meninggalkan yang bathil. Semoga aku tidak salah sangka.

Ibuku dan Ayahku juga minta ma’af ketika mereka selalu membatasi tontonan dan bacaanku, karena dewasa ini sangat banyak media yang dapat merusak Pendidikan yang sudah mereka  terapkan kepadaku. Itu semua mereka lakukan, agar aku terpelihara dari hal-hal negatif yang akan merusak Akhlaq dan perilakuku. Ibuku dan Ayahku ingin, aku menjadi Puterinya yang faqih dalam hal agama, menjadi generasi yang juga bisa di banggakan.

Itulah harapan Ibuku dan Ayahku kepadaku, sangat banyak dan sangat ideal. Oleh karenanya, mereka  senantiasa memohon Petunjuk dan Bimbingan dari Allah,yang  agar tidak salah langkah dalam mendidikku.

 

 

 

Ibu…Ayah…I Love You Forever.

 

 

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.